Harus ter(di)akhiri..
Angin masih saja merayu untuk dinikmati malam ini, dan bulan masih merajuk. Dan gerimis yang selalu berhasil menyita perhatian, malam ini tak mampu membuat diri ini bangkit dan tersenyum.
Selalu ada akhir dari sebuah kata, kalimat, paragraf, cerita, bahkan hubungan. Dan tentu saja setiap akhir yang bermakna “benar-benar akhir” menyisakan sesuatu yang pedih dan mengiris.
Apa yang ada dipikiranmu?
cerita indah tadi malam seakan tidak pernah terjadi ketika sebuah pesan singkat terkirim dari sebuah kamar rumah sakit dan sampai dengan selamat setelah menempuh jarak ratusan/ribuan kilometer jauhnya ke sebuah kamar biasa. kamar seorang remaja yang mengenal betul sang pengirim pesan. Seorang mahasiswi kedokteran yang menimba ilmu di kota gudeg. jauh dari rumah.
Itu masih pagi. benar - benar masih pagi.
aku bahkan belum membuka mata ketika pesan singkat itu masuk dan membuat sedikit dering berisik dikamarku.
Sebuah pesan singkat yang sangat singkat, yang diawali kata maaf dan diakhiri dengan terima kasih.
Sebuah pesan singkat yang membuat aku berharap kalau aku masih tidur dan bermimpi.
Sebuah pesan singkat yang seperti menjelaskan ke penerimanya “you’ve got a bad day”.
Sebuah pesan singkat yang menjelaskan bahwa ada sesuatu yang salah dan tidak baik-baik saja.
Ya, aku membacanya. dan lalu tersenyum.
Karena aku tahu itu bukan kamu. Aku yakin itu ulah kejahilan teman-temanmu.
Tapi lima menit kemudian… dan aku tersadar.
bukankah ini masih pagi? bukankah teman-teman satu daerah yang biasa menemani dirumah sakit belum datang? dan bukankah teman-temanmu harus berada di kampus untuk melaksanakan ujian tengah semester mereka masing-masing? bukankah hanya ada kamu sendiri disana disebuah kamar rumah sakit tergolek menanti jadwal operasi yang belum kamu setujui?
Ya aku membacanya. lagi. dan lalu ter-iris.
Apa yang ada dipikiranmu?
Bagaimanapun juga sebuah penjelasan harus ada. Hukum dasar sebab - akibat.
Bagaimana mungkin kita yang semalam biasa saja atau bahkan baik-baik saja dan …
ahh ini tidak mungkin. dan tapi . . ahh
Ya, kamu memang menjelaskannya. Namun tanpa alasan.
Bagaimana mungkin kamu bisa menjatuhkan vonis dan mengakhiri diskusi secara sepihak? tanpa ada alasan?
aku butuh alasan yang kenapa harus diberitahu nanti saat kepulanganmu di akhir semester.. dan hey kamu biasa saja, sangat biasa saja.
menjelaskan semuanya dengan santai tanpa intonasi tinggi atau rendah pada nada suaramu.
kenapa semuanya terlihat begitu mudah bagimu?
tidak seperti biasanya..
Lima tahun cukuplah untuk mengenalmu. dan kamu sangat berbeda pagi itu.
apa yang ada dipikiranmu?
Dan meski tanya itu tak terjawab. aku masih punya pertanyaan lain.
kenapa baru sekarang?
saat aku benar - benar yakin akan mu.
kenapa baru sekarang?
saat segala jawaban ternyata ada padamu. saat rasa yang aku anggap hanya sesaat ternyata tidak. when i found my truly butterfly.
kenapa tidak sejak dulu?
apakah karena sakitmu itu? aah aku tidak mau berasumsi lebih banyak tentang ini dan tidak mau seperti berada dalam film-film sedih itu.
Setelah ratusan tanya yang tak terjawab sempurna itu, aku harus berkata, ya sudahlah.
Aku bukan menyerah, aku hanya tidak ingin membuatmu terlalu banyak berpikir untuk mencari alasan dan mengganggu pikiran serta kesehatanmu.
Tujuh jam cukuplah aku menginterogasi dan mengganggu jam istirahatmu. maaf.
Ya. ya sudahlah,
Bagaimanapun aku menghargai segala tentangmu, sesuatu yang kau sembunyikan itu dan keputusanmu. meski berat.
semua yang sudah kita pupuk bersama seakan cuma cerita dalam cerpen.
Segala asa yang kita rajut, segala mimpi dan ingin yang kita rencanakan menjadi biasa saja.
ketika selesai menuntut ilmu kita ingin ini itu, ketika selesai ini kita ingin ini itu, dan setelah itu selesai kita ingin ini itu..
Tapi tenang, aku akan menyimpannya dalam sebuah amplop kuat berwarna emas dan memasukkannya dalam lemari besi yang kokoh dan hanya kamu yang punya kuncinya jika suat saat nanti kamu ingin membukanya lagi. aku berharap.
aku sadar aku bukan orang baik yang seperti setiap orang harapkan.
aku bukan seseorang yang selalu patuh pada peraturan. aku bukan orang yang selalu taat akan apapun. aku bukan orang yang tidak suka bersenang-senang berlebihan.
dan aku adalah orang yang lelah dengan keseriusan.
aku bahkan tidak rajin menabung.
Ya. aku menerimanya.
Dan aku menganggapnya sebagai cobaan..
saat aku mulai belajar dengan baik untuk mendekatkan diri pada yang Maha Mencintai, kamu memilih untuk menjauh.
aku menerimanya, tapi tidak dengan menyerah.
apapun alasan yang kamu sembunyikan itu, aku pikir baik untukku. karena aku mengenalmu.
Dan di akhir semua itu, masih ada asa di sudut ruang yang meminta untuk diperhatikan…
