Karena cinta tidak pernah mau tahu. Betapapun sakitnya kamu, betapapun berjuangnya kamu dan betapapun lelahnya kamu, ia akan tetap meracuni”. – @dihari
Kehidupan yang indah mungkin saja dinilai dengan banyaknya harta yang dimiliki seseorang, tapi tidak selalu. Kehidupan yang indah terkadang digambarkan dengan pencapaian – pencapaian yang semua orang memimpikannya, tapi tidak selalu. Kehidupan yang indah bisa saja seperti menikmati buah apel tanpa harus memetik dari pohonnya, tanpa harus mengupas kulitnya, tanpa harus mengunyahnya, dan tentu saja itu tidak selalu. Tapi yang pasti kehidupan yang indah itu setiap harinya selalu memiliki alasan untuk tersenyum.” - @dihari

Harus ter(di)akhiri..

Angin masih saja merayu untuk dinikmati malam ini, dan bulan masih merajuk. Dan gerimis yang selalu berhasil menyita perhatian, malam ini tak mampu membuat diri ini bangkit dan tersenyum.

Selalu ada akhir dari sebuah kata, kalimat, paragraf, cerita, bahkan hubungan. Dan tentu saja setiap akhir yang bermakna “benar-benar akhir” menyisakan sesuatu yang pedih dan mengiris.

Apa yang ada dipikiranmu?

cerita indah tadi malam seakan tidak pernah terjadi ketika sebuah pesan singkat terkirim dari sebuah kamar rumah sakit dan sampai dengan selamat setelah menempuh jarak ratusan/ribuan kilometer jauhnya ke sebuah kamar biasa. kamar seorang remaja yang mengenal betul sang pengirim pesan. Seorang mahasiswi kedokteran yang menimba ilmu di kota gudeg. jauh dari rumah.

Itu masih pagi. benar -  benar masih pagi.
aku bahkan belum membuka mata ketika pesan singkat itu masuk dan membuat sedikit dering berisik dikamarku.
Sebuah pesan singkat yang sangat singkat, yang diawali kata maaf dan diakhiri dengan terima kasih.

Sebuah pesan singkat yang membuat aku berharap kalau aku masih tidur dan bermimpi.

Sebuah pesan singkat yang seperti menjelaskan ke penerimanya “you’ve got a bad day”.

Sebuah pesan singkat yang menjelaskan bahwa ada sesuatu yang salah dan tidak baik-baik saja.

Ya, aku membacanya. dan lalu tersenyum.
Karena aku tahu itu bukan kamu. Aku yakin itu ulah kejahilan teman-temanmu.

Tapi lima menit kemudian… dan aku tersadar.
bukankah ini masih pagi? bukankah teman-teman satu daerah yang biasa menemani dirumah sakit belum datang? dan bukankah teman-temanmu harus berada di kampus untuk melaksanakan ujian tengah semester mereka masing-masing? bukankah hanya ada kamu sendiri disana disebuah kamar rumah sakit tergolek menanti jadwal operasi yang belum kamu setujui?
Ya aku membacanya. lagi. dan lalu ter-iris. 

Apa yang ada dipikiranmu?

Bagaimanapun juga sebuah penjelasan harus ada. Hukum dasar sebab - akibat.
Bagaimana mungkin kita yang semalam biasa saja atau bahkan baik-baik saja dan …
ahh ini tidak mungkin. dan tapi . . ahh

Ya, kamu memang menjelaskannya. Namun tanpa alasan.
Bagaimana mungkin kamu bisa menjatuhkan vonis dan mengakhiri diskusi secara sepihak? tanpa ada alasan?

aku butuh alasan yang kenapa harus diberitahu nanti saat kepulanganmu di akhir semester.. dan hey kamu biasa saja, sangat biasa saja.

menjelaskan semuanya dengan santai tanpa intonasi tinggi atau rendah pada nada suaramu.

kenapa semuanya terlihat begitu mudah bagimu?

tidak seperti biasanya..
Lima tahun cukuplah untuk mengenalmu. dan kamu sangat berbeda pagi itu.

apa yang ada dipikiranmu?

Dan meski tanya itu tak terjawab. aku masih punya pertanyaan lain.
kenapa baru sekarang? 
saat aku benar - benar yakin akan mu. 

kenapa baru sekarang?
saat segala jawaban ternyata ada padamu. saat rasa yang aku anggap hanya sesaat ternyata tidak. when i found my truly butterfly.

kenapa tidak sejak dulu?

apakah karena sakitmu itu? aah aku tidak mau berasumsi lebih banyak tentang ini dan tidak mau seperti berada dalam film-film sedih itu.

Setelah ratusan tanya yang tak terjawab sempurna itu, aku harus berkata, ya sudahlah.

Aku bukan menyerah, aku hanya tidak ingin membuatmu terlalu banyak berpikir untuk mencari alasan dan mengganggu pikiran serta kesehatanmu.

Tujuh jam cukuplah aku menginterogasi dan mengganggu jam istirahatmu. maaf.

Ya. ya sudahlah,

Bagaimanapun aku menghargai segala tentangmu, sesuatu yang kau sembunyikan itu dan keputusanmu. meski berat.

semua yang sudah kita pupuk bersama seakan cuma cerita dalam cerpen.
Segala asa yang kita rajut, segala mimpi dan ingin yang kita rencanakan menjadi biasa saja.
ketika selesai menuntut ilmu kita ingin ini itu, ketika selesai ini kita ingin ini itu, dan setelah itu selesai kita ingin ini itu..

Tapi tenang, aku akan menyimpannya dalam sebuah amplop kuat berwarna emas dan memasukkannya dalam lemari besi yang kokoh dan hanya kamu yang punya kuncinya jika suat saat nanti kamu ingin membukanya lagi. aku berharap.

aku sadar aku bukan orang baik yang seperti setiap orang harapkan.
aku bukan seseorang yang selalu patuh pada peraturan. aku bukan orang yang selalu taat akan apapun. aku bukan orang yang tidak suka bersenang-senang berlebihan.

dan aku adalah orang yang lelah dengan keseriusan.

aku bahkan tidak rajin menabung.

Ya. aku menerimanya.

Dan aku menganggapnya sebagai cobaan..

saat aku mulai belajar dengan baik untuk mendekatkan diri pada yang Maha Mencintai, kamu memilih untuk menjauh.

aku menerimanya, tapi tidak dengan menyerah.

apapun alasan yang kamu sembunyikan itu, aku pikir baik untukku. karena aku mengenalmu.

Dan di akhir semua itu, masih ada asa di sudut ruang yang meminta untuk diperhatikan…

Sebuah lagu bagus dengan lirik bagus

Bosen juga lama – lama sama acara musik pagi yang lagunya gituuu gitu aja. Kucek kucek jemur jemur. Modelnya sama, rambutnya sama, musiknya juga sama. Kalo gak niru si ini, pasti niru si itu. Emang sih tangga nada itu cuma do re mi fa sol la si do, atau chord itu cuma dari “A” sampai “G”. Tapi apa iya harus sama? kreatif dikitlah. sok.

Sama aja kayak baju, semua baju kan dibuatnya pake benang. Cuma dipake buat nutupin badan. Tapi liat modelnya, gambarnya, warnanya, apakah sama? Enggak kan.

Tapi bagaimanapun, saya tetap salut dengan kalian dan musik mainstream kalian.

Tapi tetap miris dengan perkembangan musik kita…

Tapi tapi tapi

Tapi tetep pengen dong dengerin musik Indonesia juga. J

Atas dasar pemikiran itulah saya lebih memilih untuk mendengarkan musik-musik indie.
kenapa? Karena mereka idealis. Mereka tetap bertahan dengan jenis musik mereka yang seperti itu walaupun bisa saja tergerus dengan perkembangan musik mainstream yang semakin berkembang biak.
mereka tidak harus pindah aliran untuk cari makan (komersil), karena menurut mereka idealis pun bisa ngasi makan. #salut

Diantara band – band indie tersebut, ada satu band yang selalu mengisi playlist di Mp3 saya selama beberapa minggu ini. Efek Rumah Kaca (ERK).

Ya, efek rumah kaca. Lho kok? Iya namanya emang efek rumah kaca. J
kenapa pilih efek rumah kaca? Sebenarnya bukan Cuma ERK, banyak kok band – band lain yang bagus tapi emang lagi pengen bahas ERK aja. :D
tapi jangan salah, gitu-gitu mereka udah pernah dapet 3 penghargaan.

Rookie of the Year 2008- Rolling Stone Indonesia

Nominator AMI Award 2008

Nominator MTV Music Award 2008


lagu-lagunya banyak membahas tentang  anak muda, politik, sosial budaya, dan tentu saja cinta.

Ada satu lagu yang membuat saya masih tetap mendengarkan mereka.
“tubuhmu membiru (tragis)” iya itu judulnya.
bukan lagu baru, tapi masih sangat pantas didengar.
lagunya bagus, musiknya easy listening, liriknya bagus dengan pemilihan kata-kata yang tepat.
cukup terinspirasi sebenarnya dengan lagu ini. Bagaimana seharusnya kita menghadapi masalah, bagaimana kita seharusnya melaluinya, dan bagaimana seharusnya kita, setelah yang menyakitkan itu lewat.

Ini dia liriknya.

Tubuhmu membiru (tragis)

 

kamu ingin melompat

ingin sekali melompat

dari ketinggian di ujung sana
menuju entah apa namanya

coba bukalah mata
indah di bawah sana
tutup rapat kedua telinga
dari bisikan entah dimana

kau terbang
dari ketinggian mencari yang paling sunyi
dan kau melayang
mencari mimpi-mimpi tak kunjung nyata

kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..

terikmu yang menganga
tak hentinya bertanya
hidup tak selamanya linier
tubuh tak seharusnya tersier

coba bukalah mata
indah di bawah sana
tutup rapat kedua telinga
dari bisikan ntah dimana

kau terbang
dari ketinggian mencari yang paling sunyi
dan kau
melayang mencari mimpi- mimpi tak kunjung nyata

kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..
kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..

kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..
kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..

kulihat engkau terkulai..

tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis

(Efek Rumah Kaca)

(Reblogged from pergijauh)

Self Titled

Tuhan, jika suatu saat aku terjatuh di titik terendah dalam kehidupan ini, aku hanya ingin mampu berdiri lagi dengan tegarnya. Tanpa tangis, tanpa keluh, tanpa kerinduan akan alibi – alibi palsu yang selama ini menggerogoti.

berikan aku waktu untuk berpikir, bahwa ini adalah siklus pengorbanan yang harus aku lalui.
biarkan aku ber fikir dengan tegas bahwa ini semua adalah kuasa Mu.

Dan berikan aku waktu untuk merenunginya, bahwa sebenarnya Kau memilih aku untuk setiap masalah – masalahMu adalah karena Kau tahu dan sungguh tahu bahwa aku mampu.

Tuhan, jika suatu saat nanti engkau mengizinkan aku untuk berdiri pada puncak tertinggi dunia yang fana ini, beri aku waktu sejenak.

Beri aku waktu untuk memandang kehidupan dari puncak itu.

Biarkan aku tertawa sebentar.

Biarkan aku menertawakan hal - hal bodoh yang aku takuti dulu. Bahwa sebenarnya rangkaian tragedi rumit yang kau berikan adalah palsu. Biarkan aku tertawa karena telah dengan getir melalui semuanya.

Dan biarkan, biarkan aku menangis.

Biarkan aku menangis karena telah sombong, karena telah angkuh mengatakan diri ini mampu atas setiap kuasa Mu.

Elegi

Saya  benci dengan setiap ketidak pastian.

Saya benci dengan komentar – komentar yang selalu merendahkan.

Saya benci dengan kalimat – kalimat baik yang ditujukan pada orang di sebelah saya,  bukan saya. Dan ini bukan iri.

Saya benci ketika melihat langit, matahari menghalangi gerimis turun, gerimis itu indah. Romantis.

Saya benci ketika segala sesuatunya harus bergantung pada jumlah isi kantong.

Saya benci saat semua harus diukur pada label kuantitas, bukan kualitas.

Dan bla bla bla

Mungkin tidak akan ada habisnya jika berbicara tentang kebencian. Karena memang di sekitar kita sudah sesak dengan amarah, duka, kebosanan, apalagi benci. Satu hal lazim pembawaan lahir manusia ke dunia dengan sifat yang satu ini.

Benci, tidaklah buruk jika yang dibenci itu salah. akan menjadi buruk ketika kita justru memanfaatkan kebencian itu sebagai alasan bertindak bodoh. Berlaku ekstrim.

Seorang pembenci bukan berarti tidak memiliki rasa sabar.

Tapi, sabar itu bukan sifat. Sabar adalah buah karya hasil atau akibat dari setiap pengalaman hidup setiap manusia. Lebih tepatnya bisa dikatakan penderitaan.

Seorang pembenci tidak akan membenci selamanya.

Yah, tidak selamanya. Dalam ilmu psikologi, ada 4 fase yang terjadi pada manusia saat menerima realitas. Empat tahap yang terjadi ketika menghadapi kenyataan hidup yang berbeda dengan harapan.

Pertama – tama kita akan secara spontan marah (benci), lalu kemudian menolaknya (benci) dengan berbagai peragaan tidak jelas. Merasa tak terdengar lalu kita berontak (benci). Berontak dengan segala upaya dan kata – kata hingga kita pun lelah karena semua sia – sia. Dan sampailah kita pada tahap menerimanya dengan berkata “ya sudahlah” karena sudah benar – benar tak ada yang dapat dilakukan.

Dan sekarang, saya dan segala bentuk kebencian dalam diri ini masih bersama. Membentuk warna kelam di tengah cerah sang pelangi. Untuk didengar, untuk dilihat, untuk diperhatikan. Karena saya masih berhak disini. Saya masih punya tempat disini, dan tidak ada yang boleh merebutnya.

peeking the moon

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi - mimpi itu
Andrea Hirata