24 3 / 2014

Satu bulan pertama sudah kita lewati dengan berbagai macam cerita.
Satu bulan pertama yang mencampur adukkan rasa, emosi, ketulusan, kejujuran dan pengecualian lainnya.

Rasa yang seperti sekarang ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam seluruh fase reinkarnasi (mungkin)(ngawak) saya.
dan saya bersyukur mengalami ini semua.

Istimewa bagi saya bisa menciptakan sebuah cerita bersama sama kamu.
karena kita. saya dan kamu adalah keajaiban.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup saya yang sederhana.
Terima kasih sudah membuat hidup yang sederhana ini menjadi luar biasa.

Kita ambil pelajaran dari hari kemaren.
Dan yakin Tuhan telah mempersiapkan takdir yang lebih baik buat saya, buat kamu, buat kita.

Love you

21 2 / 2014

Seperti ikan mati, tak bergerak sedikitpun.
mengikuti arus sungai takdir yang entah membawanya kemana.
mungkin pada kemilau indah samudera yang luas, atau

kubangan lumpur yang gelap,
atau bahkan terperangkap jaring nelayan. Terperangkap selamanya.
tak mampu mengambil keputusan. Terjebak dalam rasa yang katanya salah dan tak seharusnya.

Bukankah rasa itu anugerah?

Lalu? Apa yang salah?

22 8 / 2013

Bulan
indahmu, pesonamu tak pernah berdusta.
tak pernah luntur tak pernah padam.
meski musim semi yang indah berganti menjadi kemarau panjang, indahmu tetaplah jujur.
tetap membias diantara keringnya harap.
tetap membias diantara peluh asa.

Bulan
begitu banyak pemuji keindahanmu, begitu banyak pemuja rias cahayamu.
ramai riuh mengumbar dan menceritakan pesonamu.
tapi sungguh, aku berbeda.
 Aku “egois”. aku bukan diantara mereka.
aku hanya merindukan sinarmu.
aku hanya merindukan sesuatu darimu.
sesuatu yang selalu mampu membuat aku lupa telah berapa lama menatapmu. Memperhatikanmu.

Bulan
aku “egois”, selalu tidak pernah jujur akan rasa. Selalu berdiam tentangmu.
aku bahkan tidak mau kau tahu saat aku memperhatikanmu.
aku biarkan yang lain melihatmu lahap, hanya agar kau tidak tahu kalau aku sedang memperhatikanmu.
aku bahkan tidak mau benar-benar melihatmu.
aku “egois”. tapi sungguh, aku merindu.
aku hanya merindukan sinarmu.
aku hanya merindukan sesuatu darimu.
sesuatu yang selalu mampu membuat aku lupa telah berapa lama menatapmu. Memperhatikanmu.

Bulan
maafkan jika ego ini menyakitimu.
tapi percayalah,
ini adalah salah satu caraku menjagamu tetap abadi dalam rasa.

21 8 / 2013

Lihatlah betapa angin dapat dengan mudah menjatuhkan dedaunan dari dahannya yang besar dan kuat.
betapa kecemerlangan mentari tak mampu menahan sejuknya embun pagi hari.

Lalu dimana indah yang selalu dibicarakan banyak orang?

Lihatlah betapa egoisnya takdir.
betapa hidup dapat dengan mudah membalikkan keadaan.
dan ianya begitu sulit mengembalikan lagi.

Namun, daun yang jatuh tak pernah sedikitpun membeci angin.
begitu juga dengan embun yang akan selalu setia untuk ada disetiap pagi, meski mentari membuatnya sirna.
dan diri yang merasakannya, pun tak akan menyerah untuk setiap jalan takdir.

Dan ketika rasa mulai tertindih oleh dilema, aku memilih bertahan.
dalam ke-ada-an atau ke-tiada-an.

02 6 / 2013

iya, menjauhlah sedikit.
saya tidak akan mampu kalau terlalu dekat.
iya, menjauhlah sedikit.
saya lelah. lelah membatin betapa indahnya ini.
iya, menjauhlah sedikit.
saya sudah di depan, dan tidak berharap kembali lagi. seberapapun indahnya.
jangan terlalu dekat!

09 5 / 2013

"“Karena cinta tidak pernah mau tahu. Betapapun sakitnya kamu, betapapun berjuangnya kamu dan betapapun lelahnya kamu, ia akan tetap meracuni”. – @dihari"

09 5 / 2013

""Kehidupan yang indah mungkin saja dinilai dengan banyaknya harta yang dimiliki seseorang, tapi tidak selalu. Kehidupan yang indah terkadang digambarkan dengan pencapaian – pencapaian yang semua orang memimpikannya, tapi tidak selalu. Kehidupan yang indah bisa saja seperti menikmati buah apel tanpa harus memetik dari pohonnya, tanpa harus mengupas kulitnya, tanpa harus mengunyahnya, dan tentu saja itu tidak selalu. Tapi yang pasti kehidupan yang indah itu setiap harinya selalu memiliki alasan untuk tersenyum." - @dihari"

09 5 / 2013

Angin masih saja merayu untuk dinikmati malam ini, dan bulan masih merajuk. Dan gerimis yang selalu berhasil menyita perhatian, malam ini tak mampu membuat diri ini bangkit dan tersenyum.

Selalu ada akhir dari sebuah kata, kalimat, paragraf, cerita, bahkan hubungan. Dan tentu saja setiap akhir yang bermakna “benar-benar akhir” menyisakan sesuatu yang pedih dan mengiris.

Apa yang ada dipikiranmu?

cerita indah tadi malam seakan tidak pernah terjadi ketika sebuah pesan singkat terkirim dari sebuah kamar rumah sakit dan sampai dengan selamat setelah menempuh jarak ratusan/ribuan kilometer jauhnya ke sebuah kamar biasa. kamar seorang remaja yang mengenal betul sang pengirim pesan. Seorang mahasiswi kedokteran yang menimba ilmu di kota gudeg. jauh dari rumah.

Itu masih pagi. benar -  benar masih pagi.
aku bahkan belum membuka mata ketika pesan singkat itu masuk dan membuat sedikit dering berisik dikamarku.
Sebuah pesan singkat yang sangat singkat, yang diawali kata maaf dan diakhiri dengan terima kasih.

Sebuah pesan singkat yang membuat aku berharap kalau aku masih tidur dan bermimpi.

Sebuah pesan singkat yang seperti menjelaskan ke penerimanya “you’ve got a bad day”.

Sebuah pesan singkat yang menjelaskan bahwa ada sesuatu yang salah dan tidak baik-baik saja.

Ya, aku membacanya. dan lalu tersenyum.
Karena aku tahu itu bukan kamu. Aku yakin itu ulah kejahilan teman-temanmu.

Tapi lima menit kemudian… dan aku tersadar.
bukankah ini masih pagi? bukankah teman-teman satu daerah yang biasa menemani dirumah sakit belum datang? dan bukankah teman-temanmu harus berada di kampus untuk melaksanakan ujian tengah semester mereka masing-masing? bukankah hanya ada kamu sendiri disana disebuah kamar rumah sakit tergolek menanti jadwal operasi yang belum kamu setujui?
Ya aku membacanya. lagi. dan lalu ter-iris. 

Apa yang ada dipikiranmu?

Bagaimanapun juga sebuah penjelasan harus ada. Hukum dasar sebab - akibat.
Bagaimana mungkin kita yang semalam biasa saja atau bahkan baik-baik saja dan …
ahh ini tidak mungkin. dan tapi . . ahh

Ya, kamu memang menjelaskannya. Namun tanpa alasan.
Bagaimana mungkin kamu bisa menjatuhkan vonis dan mengakhiri diskusi secara sepihak? tanpa ada alasan?

aku butuh alasan yang kenapa harus diberitahu nanti saat kepulanganmu di akhir semester.. dan hey kamu biasa saja, sangat biasa saja.

menjelaskan semuanya dengan santai tanpa intonasi tinggi atau rendah pada nada suaramu.

kenapa semuanya terlihat begitu mudah bagimu?

tidak seperti biasanya..
Lima tahun cukuplah untuk mengenalmu. dan kamu sangat berbeda pagi itu.

apa yang ada dipikiranmu?

Dan meski tanya itu tak terjawab. aku masih punya pertanyaan lain.
kenapa baru sekarang? 
saat aku benar - benar yakin akan mu. 

kenapa baru sekarang?
saat segala jawaban ternyata ada padamu. saat rasa yang aku anggap hanya sesaat ternyata tidak. when i found my truly butterfly.

kenapa tidak sejak dulu?

apakah karena sakitmu itu? aah aku tidak mau berasumsi lebih banyak tentang ini dan tidak mau seperti berada dalam film-film sedih itu.

Setelah ratusan tanya yang tak terjawab sempurna itu, aku harus berkata, ya sudahlah.

Aku bukan menyerah, aku hanya tidak ingin membuatmu terlalu banyak berpikir untuk mencari alasan dan mengganggu pikiran serta kesehatanmu.

Tujuh jam cukuplah aku menginterogasi dan mengganggu jam istirahatmu. maaf.

Ya. ya sudahlah,

Bagaimanapun aku menghargai segala tentangmu, sesuatu yang kau sembunyikan itu dan keputusanmu. meski berat.

semua yang sudah kita pupuk bersama seakan cuma cerita dalam cerpen.
Segala asa yang kita rajut, segala mimpi dan ingin yang kita rencanakan menjadi biasa saja.
ketika selesai menuntut ilmu kita ingin ini itu, ketika selesai ini kita ingin ini itu, dan setelah itu selesai kita ingin ini itu..

Tapi tenang, aku akan menyimpannya dalam sebuah amplop kuat berwarna emas dan memasukkannya dalam lemari besi yang kokoh dan hanya kamu yang punya kuncinya jika suat saat nanti kamu ingin membukanya lagi. aku berharap.

aku sadar aku bukan orang baik yang seperti setiap orang harapkan.
aku bukan seseorang yang selalu patuh pada peraturan. aku bukan orang yang selalu taat akan apapun. aku bukan orang yang tidak suka bersenang-senang berlebihan.

dan aku adalah orang yang lelah dengan keseriusan.

aku bahkan tidak rajin menabung.

Ya. aku menerimanya.

Dan aku menganggapnya sebagai cobaan..

saat aku mulai belajar dengan baik untuk mendekatkan diri pada yang Maha Mencintai, kamu memilih untuk menjauh.

aku menerimanya, tapi tidak dengan menyerah.

apapun alasan yang kamu sembunyikan itu, aku pikir baik untukku. karena aku mengenalmu.

Dan di akhir semua itu, masih ada asa di sudut ruang yang meminta untuk diperhatikan…

20 4 / 2013

20 4 / 2013

Bosen juga lama – lama sama acara musik pagi yang lagunya gituuu gitu aja. Kucek kucek jemur jemur. Modelnya sama, rambutnya sama, musiknya juga sama. Kalo gak niru si ini, pasti niru si itu. Emang sih tangga nada itu cuma do re mi fa sol la si do, atau chord itu cuma dari “A” sampai “G”. Tapi apa iya harus sama? kreatif dikitlah. sok.

Sama aja kayak baju, semua baju kan dibuatnya pake benang. Cuma dipake buat nutupin badan. Tapi liat modelnya, gambarnya, warnanya, apakah sama? Enggak kan.

Tapi bagaimanapun, saya tetap salut dengan kalian dan musik mainstream kalian.

Tapi tetap miris dengan perkembangan musik kita…

Tapi tapi tapi

Tapi tetep pengen dong dengerin musik Indonesia juga. J

Atas dasar pemikiran itulah saya lebih memilih untuk mendengarkan musik-musik indie.
kenapa? Karena mereka idealis. Mereka tetap bertahan dengan jenis musik mereka yang seperti itu walaupun bisa saja tergerus dengan perkembangan musik mainstream yang semakin berkembang biak.
mereka tidak harus pindah aliran untuk cari makan (komersil), karena menurut mereka idealis pun bisa ngasi makan. #salut

Diantara band – band indie tersebut, ada satu band yang selalu mengisi playlist di Mp3 saya selama beberapa minggu ini. Efek Rumah Kaca (ERK).

Ya, efek rumah kaca. Lho kok? Iya namanya emang efek rumah kaca. J
kenapa pilih efek rumah kaca? Sebenarnya bukan Cuma ERK, banyak kok band – band lain yang bagus tapi emang lagi pengen bahas ERK aja. :D
tapi jangan salah, gitu-gitu mereka udah pernah dapet 3 penghargaan.

Rookie of the Year 2008- Rolling Stone Indonesia

Nominator AMI Award 2008

Nominator MTV Music Award 2008


lagu-lagunya banyak membahas tentang  anak muda, politik, sosial budaya, dan tentu saja cinta.

Ada satu lagu yang membuat saya masih tetap mendengarkan mereka.
“tubuhmu membiru (tragis)” iya itu judulnya.
bukan lagu baru, tapi masih sangat pantas didengar.
lagunya bagus, musiknya easy listening, liriknya bagus dengan pemilihan kata-kata yang tepat.
cukup terinspirasi sebenarnya dengan lagu ini. Bagaimana seharusnya kita menghadapi masalah, bagaimana kita seharusnya melaluinya, dan bagaimana seharusnya kita, setelah yang menyakitkan itu lewat.

Ini dia liriknya.

Tubuhmu membiru (tragis)

 

kamu ingin melompat

ingin sekali melompat

dari ketinggian di ujung sana
menuju entah apa namanya

coba bukalah mata
indah di bawah sana
tutup rapat kedua telinga
dari bisikan entah dimana

kau terbang
dari ketinggian mencari yang paling sunyi
dan kau melayang
mencari mimpi-mimpi tak kunjung nyata

kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..

terikmu yang menganga
tak hentinya bertanya
hidup tak selamanya linier
tubuh tak seharusnya tersier

coba bukalah mata
indah di bawah sana
tutup rapat kedua telinga
dari bisikan ntah dimana

kau terbang
dari ketinggian mencari yang paling sunyi
dan kau
melayang mencari mimpi- mimpi tak kunjung nyata

kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..
kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..

kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..
kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis..

kulihat engkau terkulai..

tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis
tubuhmu membiru.. tragis.. tragis

(Efek Rumah Kaca)